BAB 1

1.1.        PENDAHULUAN

Kemisikinan merupakan masalah utama dalam suatu perekonomian di dunia maupun di Indonesia, termasuk Provinisi Jawa Timur. Berdasarkan data BPS jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan (penduduk miskin) di Jawa Timur pada bulan Maret 2011 sebanyak 5.356 juta (14,23 persen),turun dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2010 yang sebesar 5,529 juta (15,26 persen). Angka kemiskinan tersebut belum mencerminkan kondisi yang sebenarnya karena beragam definisi kemiskinan masih menjadi perdebatan. Namun demikian, apapun definisinya, kemiskinan tetap menjadi masalah utama dalam perekonomian makro dan mikro yang akan menimbulkan efek berganda pada berbagai sektor kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat. Kemiskinan menjadi penyebab kriminalitas, kerusakan lingkungan, dan berbagai penyimpangan lainnya.

Sejarah perkembangan koperasi di berbagai Negara di dunia disebabkan oleh tidak dapat diselesaikannya masalah kemiskinan dengan semangat individualisme. Koperasi sesuai dengan asal katanya “Co” dan “Coperation”, berarti bekerja bersama-sama. Koperasi lahir pertama kali di Rochdale Inggris pada tahun 1844 sebagai media tindakan kolektif kaum buruh untuk mengatasi masalah kemiskinan dalam perekonomian kapitalis. Ide tersebut telah mengacu tumbuhnya koperasi-koperasi di berbagai negara dalam berbagai bentuk dan jenis koperasi. Koperasi dijadikan model untuk mengangkat taraf kehidupan.ekonomi masyarakat lapisan bawah agar mampu menolong dirinya sendiri di dalam menghadapi masalah kemiskinan secara kolektif. Begitu juga dengan Indonesia yang juga mengadopsi koperasi sebagai solusi masalah kemiskinan sejak tahun 1896. Sebagaimana yang ditulis oleh Masngudi (1990), perkembangan koperasi di Indonesia diawali oleh R. Aria Wiraatmadja, patih di Purwokerto Jawa Tengah pada tahun 1896 dan berkembang hingga sekarang (2011) di seluruh wilayah Indonesia termasuk Provinsi Jawa Timur.

Menurut Ariffin (2002), beberapa manfaat apabila pelaku ekonomi melakukan kerjasama melalui tindakan kolektif koperasi, antara lain:

  1. Membangun economies of scale dalam mencapai efisiensi dan peningkatan daya tawar ekonomi.
  2. Memperoleh external economies yaitu meningkatnya produktivitas karena peluang kemitraan atau kerjasama dengan berbagai pihak eksternal semakin terbuka.
  3. Memperoleh manfaat-manfaat non-ekonomis karena adanya penyatuan individu ke dalam kelompok.

Terkait dengan solusi masalah kemiskinan di Jawa Timur, salah satu upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mendorong partisipasi dan tindakan kolektif masyarakat adalah dengan Pemberdayaan Perempuan Pengembangan Ekonomi Lokal (P3EL), yaitu dengan Program pembentukan Koperasi Wanita di setiap desa/kelurahan dalam wilayah Provinsi Jawa Timur. Program tersebut sangat relevan dan strategis karena didukung oleh beberapa alasan, antara lain:

  1. Perekonomian di Indonesia, termasuk Jawa Timur sedang menghadapi sistem kapitalisme, yang mana para pelaku ekonomi skala kecil berhadapan atau bersaing secara langsung dengan pelaku ekonomi skala besar. Sehingga peran koperasi diperlukan sebagai media tindakan kolektif pelaku ekonomi skala kecil. Contohnya : pesatnya perkembangan pasar modern (hypermarket dan mini market) hingga ke pedesaan telah mengancam eksistensi para pedagang kecil di pasar tradisional dan toko-toko kecil
  2. Norma agama (berjamaah) dan norma budaya (gotong royong) di Jawa Timur sangat relevan dengan jatidiri koperasi yang bekerja sacara kolektif untuk mencapai tujuan bersama;
  3. Jumlah penduduk wanita di Jawa Timur relatif seimbang dengan jumlah penduduk laki-laki, namun sebagian besar potensi wanita, khususnya ibu rumah tangga belum dimanfaatkan secara optimal;
  4. Koperasi wanita dapat berkembang di semua sektor ekonomi dan berdampak langsung pada peningkatan ekonomi rumah tangga;
  1. Peran Koperasi Wanita di Provinsi Jawa Timur selama ini (sejak tahun 1968 s/d sekarang) terhadap ekonomi rumah tangga telah ditunjukkan oleh kinerja Pusat Koperasi Wanita Jawa Timur (Puskowanjati) bersama koperasi-koperasi primernya yang tersebar di wilayah Provinsi Jawa Timur;
  2. Koperasi sudah lama berkembang di Indonesia (sejak tahun 1896 s/d sekarang atau 115 tahun), hingga tahun 2007 jumlah koperasi di Indonesia mencapai 149.793 unit. Di Jawa Timur tahun 2009 jumlah koperasi sudah mencapai 19.332 unit, jumlah anggota sebanyak 5.102.779 orang, jumlah tenaga kerja 60.960 orang, asset 12.619.776.666.000, volume usaha 18.297.960.354.000, dan SHU 843.378.072.000 (Dinas Koperasi Jawa Timur, 2010);
  3. Pengembangan Koperasi Wanita di Jawa Timur didukung oleh insfrastruktur yang lengkap, yaitu: (a) UUD 1945 pasal 33 tentang koperasi sebagai soko guru perekonomian Nasional Indonesia; (b) UU No. 25 tahun 1992 tentang perkoperasian Indonesia; (c) Rencana Pembangunan Nasional Jangka Panjang tahun 2005-2025; (d) Keputusan Gubernur Jawa Timur No188/284/KPTS/013/2009 tentang Lokasi dan Alokasi penerima bantuan keuangan Pemberdayaan Perempuan Pengembangan Ekonomi Lokal (P3EL); dan (e) struktur pemerintahan dan gerakan koperasi tingkat nasional dan daerah.

Sasaran utama program Pemberdayaan Perempuan Pengembangan Ekonomi Lokal (P3EL) adalah kaum perempuan di Jawa Timur. Kaum perempuan merupakan salah satu segmen penduduk dalam pembangunan, yang memiliki  jumlah seimbang dengan jumlah laki-laki. Hal tersebut merupakan potensi/modal besar yang dimiliki perempuan untuk meningkatkan kualitas SDM/posisinya sejajar dengan laki-laki. Perempuan sebagai pemain sentral dalam menjamin kesejahteraan keluarga, sepatutnya diberikan kesempatan ekonomi untuk menjamin ketahan dasar keluarga melalui peningkatan akses termasuk akses terhadap sumberdaya ekonomi.

Dapat dikatakan bahwa peningkatan ekonomi keluarga melalui peran perempuan dapat tercipta manakala perempuan berusaha. Berbagai permasalahan yang dihadapi antara lain akses untuk memperoleh pendanaan/modal kerja/kredit, sulitnya pendaftaran usaha, biaya, kurangnya jaminan keuangan, terbatasnya ruang gerak, teknologi, informasi pasar, serta SDM perempuan, dapat dicarikan solusinya ketika perempuan berkelompok bersama sesama kaumnya. Salah satu pilihan usaha tersebut adalah melalui  Koperasi wanita, dimana pemerintahan Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur telah berhasil membentuk 3.750 koperasi wanita pada tahun 2009 lalu dan 4.756 terbentuk di tahun 2010, sehingga total telah terbentuk 8.506 Desa/kelurahan di seluruh Jawa Timur, dengan bantuan modal awal sebesar Rp. 25.000.000,- per koperasi wanita.

Sebagai tindak lanjut program pembentukan Koperasi Wanita, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga telah memberikan apresiasi dan penghargaan kepada  Koperasi Wanita yang berkinerja baik, untuk mendapatkan fasilitasi bantuan tambahan  permodalan sebesar Rp. 25.000.000,- per Koperasi. Selain itu, Provinsi Jawa Timur juga mengusahakan perkembangan koperasi wanita antara lain: Hibah permodalan,  dana koordinasi Dinas Koperasi dan UMKM kabupaten, dana pendirian akta koperasi wanita ke notaris, dana pengadaan buku administrasi, dana BINTEK, dan dana sinkronisasi.  Dengan demikian, kebijakan Pemberdayaan Perempuan Pengembangan Ekonomi Lokal (P3EL) melalui program pembentukan Koperasi Wanita di 8.506 desa/kelurahan di seluruh Jawa Timur setidaknya telah menghabiskan biaya lebih dari Rp. 200 Milyar sebagai modal awal Kopwan. Jumlah tersebut belum termasuk tambahan modal Rp. 25.000.000 bagi kopwan yang berkinerja baik dan biaya operasional yang lain, yang juga menghabiskan biaya milyaran rupiah.

Besarnya biaya yang telah dikeluarkan untuk program pembentukan Koperasi Wanita telah menunjukkan besarnya komitmen pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap pemberdayaan ekonomi lokal melalui koperasi wanita. Dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan sistem anggaran berbasis kinerja, penelitian ini  bermaksud untuk menganalisis efektifitas program pembentukan Koperasi Wanita di Jawa Timur, khususnya di Madura.

1.2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana perencanaan program pembentukan Koperasi Wanita di Madura?
  2. Bagaimana pelaksanaan program pembentukan Koperasi Wanita di Madura?

1.3.        Tujuan

  1. Menganalisis efektifitas program pembentukan Koperasi Wanita di Jawa Timur, khususnya di Madura. Efektifitas yang dimaksud adalah  relevansi antara perencanaan dan pelaksanaan  program pembentukan Koperasi Wanita di Madura.

1.4.        Manfaat

  1. Sebagai masukan bagi pemerintah daerah dalam membuat kebijakan pelaksanaan dalam melaksanaan program yang telah direncanakan.
  2. Sebagai bahan referensi peneliti lain yang berminat dalam analisis efektivitas kebijakan pemerintah.

About alfiyamaharani

Hebat adalah sesuatu yang biasa yang dilakukan dengan cara luar biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s